Monday, September 26, 2022

RRI Harus Bisa Jadi Sarana Penyampaian Aspirasi Masyarakat di Daerah 3 T

Pada hari Minggu, 11 September 2022 kemarin Radio Republik Indonesia (RRI) baru saja merayakat hari ulang tahun (HUT) yang ke-77. Di hari yang sangat istimewa ini, banyak yang berharap lembaga penyiaran publik tersebut tetap hadir sebagai sarana penyambung lidah dan penyampaian aspirasi masyarakat.

Pernyataan ini disampaikan oleh salah seorang pendengar setia RRI yang berasal dari Sekolah Tinggi Komunikasi Surabaya, Tjuk Suwarsono. Menurutnya, RRI merupakan lembaga penyiaran yang mempunyai jangkauan paling luas daripada radio yang lain.

Jadi sangat wajar jika lembaga ini harus mampu memberi ruang penyampaian aspirasi oleh masyarakat, khususnya yang bertempat tinggal di daeerah terpencil, terluar, dan tertinggal atau 3T. Melalui Kantor Berita Radio Nasional (KBRN), Tjuk menegaskan bahwa masyarakat di wilayah 3T adalah masyarakat tidak mempunyai wadah untuk menyampaikan aspirasi.

Sehubungan dengan kondisi inilah menurut Tjuk, RRI harus mampu mengambil peran untuk menampung semua aspirasi dari berbagai pihak. Bahkan termasuk masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Selain itu Tjuk juga sangat mengharapkan RRI dapat mengutamakan kemasan berita sesuai fakta maupun data empiris di lapangan. Selain itu tidak boleh bergantung pada informasi yang bersifat opini.

Kemudian pada sisi lainnya, RRI juga harus punya keberanian memberi masukan dan kritik terkait kebijakan-kebijakan dan keputusan pemerintah yang kadangkala masih kurang tepat untuk masyarakat. Intinya RRI tidak tampil sebagai corong pemerintah pemerintah belaka, seperti semasa era orde baru.

Perayaan di Solo

Sementara itu di Kota Solo sendiri, perayaan HUT RRI ke-77 ditandai dengan ziarah ke kompleks Makam Astana Girilayu, Karanganyar. Menurut rilis dari akun instagram rrisurakarta, tujuan utama dari kegiatan ini yaitu untuk mengenang jasa para pahlawan bangsa, khususnya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegoro VII.

Menurut cnnindonesia, beliau merupakan pendiri radio pribumi pertama di tanah air, Solosche Radio Vereeniging (SRV) pada 1 April 1933, yang di kemudian hari lantas diperingati sebagai Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas). Sosok ini punya keinginan melakukan perlawanan pada budaya Barat melalui produksi lagu-lagu tradisional (baca: karawitan) yang direkam dengan menggunakan medium piringan hitam.

Akan tetapi karena piringan hitam memiliki keterbatasan kapasitas, sangat minim untuk mendokumentasikan sebuah komposisi karawitan yang biasanya berdurasi panjang, maka Mangkunegoro VII lantas memutuskan membantu pendirian SRV. Bahkan beliau bersedia menyediakan tempat untuk siaran di Pendopo Kepatihan Mangkunegaran. Atas dasar inilah banyak yang menyebut Mangkunegoro VII sebagai bapak penyiaran Indonesia.

Sejarah Singkat RRI

Sedangkan kelahiran RRI, bermula ketika pemerintah Jepang berusaha menghentikan siaran radio Hoso Kyoku pada tanggal 19 Agustus 1945. Ketika itu bangsa Indonesia baru saja menyatakan kemerdekaannya dan masih banyak masyarakat yang tidak tahu tentang hal tersebut.

Kemudian sebagai bentuk perlawanan, para pengelola radio yang terdiri dari 8 orang mengadakan pertemuan pada 11 September 1945 sore di Pejambon Jakarta. Dari sini kemudian terbentuk Persatuan Radio Republik Indonesia yang jadi cikal bakal RRI.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Most Popular

Latest Articles