Monday, September 26, 2022

Menyusuri Kampung Batik Laweyan dengan Aneka Kegiatan Menyenangkan

Selaras dengan penyebutannya, Kampung Batik Laweyan merupakan tempat terbaik bagi wisatawan atau siapa saja yang tertarik dan ingin tahu lebih banyak tentang batik. Kawasan ini adalah pemukiman lawas yang sudah ada jauh sebelum ibukota kerajaan Mataran Islam pindah dari Kartosuro ke Surakarta atau Solo pada tahun 1745 Masehi.

Menariknya lagi, kampung ini juga jadi tempat kelahiran Sarekat Dagang Islam (SDI) pada tanggal 16 Oktober 1905. Tujuan pendirian organisasi yang merupakan gagasan dari H. Samanhudi ini adalah untuk menyatukan pengusaha pribumi sekaligus sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Meski lebih terkenal dengan sebutan ‘kampung’ sebenarnya Laweyan itu adalah nama kecamatan. Penamaan ini berkaitan dengan profesi yang ditekuni oleh sebagian besar penduduk sebagai produsen batik.

Menurut informasi dari kampongbatiklaweyan.org, daerah ini mulai jadi pemukiman pada abad XVI. Dalam bahasa Jawa, ‘lawe’ adalah sebuah istilah yang mengandung arti benang untuk membuat kain batik.

Belanja Batik dan Kegiatan Lain

Datang ke kampung ini, wisatawan dapat menjumpai banyak sekali toko batik dengan berbagai macam produk khususnya busana. Tapi selain itu ada pula yang menawarkan sarung batik, selendang batik, sepatu atau sandal batik, dan kerajinan lainnya. Semua dibuat dengan metode tradisional sehingga memiliki tampilan unik dan cantik.

Selain aneka produk batik, Kampung Batik Laweyan juga menyediakan kegiatan lain yang tidak kalah menarik. Bukan hanya belanja saja, wisatawan memiliki kesempatan untuk mengetahui sejarah batik, budaya batik, hingga belajar membuat batik. Semua akan menjadi pengalaman indah tak terlupakan.

Apalagi ketika belajar membatik, prosesnya sangat lengkap dan diawali dengan teknik pembuatan pola atau motif batik pada kain polos putih. Setelah itu dilanjutkan dengan mencanting, memberi warna, sampai pencucian hingga proses akhir dan siap pakai.

Usai belajar sejarah dan pembuatan batik, kegiatan wisata masih dapat diteruskan lagi dengan mengelilingi kawasan kampung. Di sini, pengunjung dapat menikmati banyak sekali bangunan lawas dan tak sedikit diantaranya yang merupakan peninggalan abad XVIII hingga abad XIX.

Arsitekturnya tidak hanya dipengaruhi oleh budaya Jawa saja, tetapi juga memasukan unsur Belanda, Eropa, Tiongkok atau Cina, dan Islam. Kendati harus melewati jalan dan gang-gang kecil, justru inilah yang jadi daya tariknya. Semua bangunan tersebut merupakan saksi bisu atas kejayaan para saudagar batik di masa lalu.

Karena sudah berkembang menjadi objek wisata, maka Kampung Batik Laweyan juga memiliki fasilitas yang sangat komplit. Mulai dari hotel atau homestay, rumah makan, hingga sarana ibadah terutama masjid telah tersedia di kampung ini.

Kemudian untuk aksesnya sendiri, juga sangat mudah karena dilalui oleh transportasi umum atau Batik Solo Trans (BST) dan angkutan kota. Apabila naik bus pilih jurusan Kartosuro – Palur atau sebaliknya (koridor IV). Sedangkan untuk angkutan kota, dapat mengambil jurusan Pasar Klewer – Gentan dan sebaliknya atau koridor 12.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Most Popular

Latest Articles